Kotak Prosa 

Kutuliskan keluhanku

Co-Author: rambutponi, littlemoir

Maret, 2004
Aku sudah tidak tahu harus melakukan apalagi pada hidupku yang berantakan ini, semuanya terasa tak berjalan semestinya. Perkuliahanku mandek di tengah jalan, hubunganku dengan keluarga sudah tidak harmonis seperti dulu lagi dan yang lebih parah lagi adalah berat badanku yang kurus ini turun 4 kilo, nasib…nasib… semua kekesalanku akan hidup kulimpahkan pada nasib yang mengikatku erat-erat sampai aku tak bisa lari maupun merubah keadaanku ini. Apakah semua orang merasakan apa yang kurasakan saat ini ? atau aku saja yang menerima “cobaan” pahit hidup ini atau memang aku saja yang selalu bernasib buruk ?.
Kerja Tuhan memang sangat misterius, semua ciptaannya harus tunduk dengan aturan-aturan yang kita sendiri tidak tahu apa itu ? manusia selalu dibenturkan oleh kata-kata musibah, rejeki, jodoh, maut dan sebagai-bagainya…..padahal, manusia diberikan kehendak dan pilihan yang bebas dari kata-kata tuhan yang mendoktrin semuanya.
Di, aku sedih….aku bingung….aku mau teriak….bagaimana ya supaya aku bias bertahan melalui “rintangan hidup” ini ? bisa bantu aku gak ?

Dini, kamu dah beres-beres rumah belum ? dari tadi kamu kerjaannya main komputer aja , bisa gak sih kamu tuh mengerjakan sesuatu yang berguna di rumah,
Nanti aja bisa kan ma, nanti juga dikerjain lagian siapa yang main komputer sih, aku Cuma lagi ngetik kok, sewot amat…

Percakapan seperti inilah yang menghindari aku berada di rumah berlama-lama, aku ingin cepat keluar dari tempat penyiksaan ini, aku ingin cepat-cepat terbebas dari belenggu doktrinasi mama yang sudah membuatku muak akannya commander viagra en ligne. Permintaannya telah hampir semua kulakukan walaupun tidak selesai pada waktu yang dia inginkan tapi setidaknya sudah kuselesaikan, sekali lagi kukatakan SUDAH KUSELESAIKAN, biar jelas….
Kenapa aku harus melakukan apa yang dia inginkan ? kenapa hanya aku yang harus melakukan semua ini, aku kan punya adik ? dan kenapa dia diperlakukan beda oleh mama, apa aku selalu melakukan kesalahan seperti yang dia selalu katakan padaku apabila dia sedang memberikan ceramah singkat dengan intonasi tinggi dan berapi-api layaknya Bung Karno yang sedang memberikan pidato kemerdekaan pada tahun 45.
Kalau aku tanyakan pertanyaan itu padanya, dia pasti menjawab, mama gak pernah membeda-bedakan kamu dengan adikmu, semua mama berikan dengan porsi yang sama, dari handphone, uang jajan dan lain-lain. Kenapa mama memperlakukan kamu seperti ini hanya dikarenakan perilaku kamu yang buruk dan malas, itu saja.
Alasan ini tidak masuk akal, karena aku tidak merasakan mama memberikan porsi yang sama pada diriku dan ade, semuanya terasa berbeda, tapi apakah perasaanku ini benar atau hanya perasaanku saja yang merasa dibeda-bedakan. Ah tidak mungkin, semua itu pasti benar, karena teman-temanku juga berpihak pada diriku. Mereka mengiyakan pernyataanku tentang perbedaan sikap mama terhadap aku dan ade, tapi mereka berpendapat bahwa aku tetap salah karena dimata orang tuaku aku hanya sebagai anak yang selalu kecil dan harus menuruti kata-kata orang tuanya, walaupun berlainan pendapat, itu kan tidak adil.
Brak…!!!! pintu depan rumah tertutup dengan kencang disertai dengan kepergian mama yang sudah tidak tahan lagi melihatku mengutak-atik komputer tanpa mengacuhkan perkataannya. Biar sajalah, yang penting dia sudah pergi dari rumah dan aku bebas melakukan apa saja semauku sampai dia pulang. Lebih baik aku tidur saja menghilangkan kekesalanku. Oh ya, aku hatus kuliah jam 9, gimana aku bisa tidur, sekarang sudah jam 8, lebih baik aku sarapan, mandi dan berangkat ke kampus.

+++++

Din, kamu gak masuk lagi ? kapan sih berubahnya, untung aja aku dah absenin, kalo enggak, kamu gak bakal bisa ikut midtest, absen kamu kan dah banyak yang kosong, sedangkan syarat untuk ujian itu 80% kehadiran, kamu malah kebalik, 80% ketidakhadiran dan 20% kehadiran.
Udah lah Cit, aku tau kok resikonya, tapi aku dah berusaha untuk bangun pagi dan berangkat pagi kok, tapi ya memang ini hasil yang paling maksimal. Bukannya aku gak pernah berusaha lho….
Iya sih, kamu memang udah usaha, tapi kamu bisa usaha lebih dari itu kan, jangan pernah menganggap remeh hal kecil dong, nanti kamu kena batunya lho.
Udah ah udah, aku lagi gak mau berantem nih, aku dah pusing berantem sama orang.

Kenapa semua orang suka menceramahi diriku sih ? apa memang tampangku seperti tampang orang yang perlu diceramahi ya ? apa ada kriteria tertentu bagi orang yang patut diceramahi atau tidak ? aku juga heran. Fiuh, akhirnya aku bisa menghisap rokok ini juga. Aku sudah gak tahan berlama-lama dirumah juga dikarenakan hal ini, semua masalahku terasa lebih ringan apabila aku sudah menghisap rokok marlboro merah ini, walaupun tidak selalu begitu, tapi setidaknya rokok ini menenangkan diriku. Bukankah lebih baik aku merokok dibandingkan dengan minum vodka, manson atau menghisap ganja.
Kegiatan perkuliahanku yang sebenarnya dimulai dari kantin ini. Kantin ini masih memberikan kenyamanan pada hidupku, karena disini aku bisa ngobrol dengan teman-temanku sambil melepaskan norma-norma kehidupan yang tidak jelas itu, yang berlaku disini hanyalah pluralitas hidup, semua orang harus bisa menghargai orang lain dengan karakter dan kebiasaannya masing-masing. Ini baru yang kunamakan hidup sebenarnya, bukan paksaan norma yang berlindung dibalik jubah kebenaran yang mereka buat untuk melindungi dirinya sendiri, dibandingkan dengan sifatku, mereka lebih buruk karena aku punya keinginan dan pilihan yang bebas dan banyak karena aku melepaskan diri dari belenggu ini walaupun susah untuk menerima kenyataan pahit bahwa masyarakat umum melihatku dengan sebelah mata.
Untung sekali aku kenal dengan teman-temanku ini, karena mereka telah memberikanku hidup yang selama ini aku inginkan, kebebasan berkreasi dan mengaspirasikan apa yang kumau dengan caraku sendiri tanpa harus takut, inilah arti kemerdekaan yang sebenarnya. Hari ini kita sedang membicarakan hal yang sama dengan hari kemarin, temanya adalah Ketuhanan.

Rendi,
Tuhan itu sebenarnya sedang bermain boneka, apa kalian sadar bahwa kita ini adalah boneka Tuhan yang kecil dan tidak dapat melakukan apa-apa dengan keinginanNya.

Aku,
Iya benar, tapi Tuhan tidak sekejam itu karena Tuhan tidak mungkin akan semena-mena terhadap ciptaannya, khususnya manusia, itu melawan sifat Tuhan yang baik, kita kan sudah tahu bahwa Dia tidak akan mengingkari janjinya sendiri.

Rendi,
Siapa bilang Tuhan tidak bisa mengingkari janjinya sendiri, Tuhan kan Maha Segalanya, berarti implikasinya adalah Tuhan dapat melakukan apasaja terhadap janjiNya, karena apakah kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kalau Tuhan itu baik, bagaimana kamu bisa menjelaskan tentang bencana alam yang ditimpakannya kepada suatu kaum atau musibah yang kamu sendiri pernah mangalaminya, apakah itu tidak cukup membuktikan bahwa Tuhan itu memilki sifat baik dan secara bersamaan memiliki sifat yang buruk juga.

Faris,
Kalian tidak bisa melakukan penilaian sepicik itu kepada Tuhan, karena Tuhan tidak seperti yang kita kira, kita kan sudah sepakat bahwa Tuhan itu berbeda dengan makhluk ciptaannya, itu berarti bahwa Tuhan tidak bisa dinilai baik atau buruk seperti yang kamu katakan barusan Ren, lagipula siapa sih yang menciptakan kata-kata baik dan buruk, itu semua kan ciptaan manusia berdasarkan kesepakatan. Apakah kita bisa dengan seenaknya memasukkan Tuhan ketatanan manusia yang…

Rendi,
Tapi bukannya kita sedang membahas Tuhan dengan menarik Tuhan itu ke dalam pembicaraan manusia yang terbatas, berarti dengan semena-mena kita telah menyamakan posisi Tuhan dengan manusia dong, berarti Tuhan memiliki sifat yang baik juga sifat yang buruk titik.

Faris,
Ok..ok, tapi kita sudah melupakan satu hal yang penting bahwa kita melakukan pembahasan Tuhan dengan pengetahuan yang terbatas, ini juga menjelaskan bahwa kita tidak sedang menyamakan posisi Tuhan dengan kita melainkan kita sedang melakukan pendekatan logika terhadap Tuhan, bukan begitu bukan ?. Aku sih bukannya tidak setuju dengan pendapatmu Ren, tapi maksud aku adalah kita tidak bisa seenaknya menilai Tuhan itu baik atau buruk, karena semua itu tidak ada ditatanan Tuhan karena tuhan terlepas dari sifat baik maupun buruk. Apa ada yang ingin kamu katakan Di, kamu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, ngomong aja

Aku,
Nggak…nggak kok, aku cuma bingung dengan pembicaraan kalian karena semua yang kalian bicarakan itu benar menurutku, jadi aku bingung sebenarnya pendapat siapa yang aku pilih,

Faris,
Kalau itu kamu harus mencarinya sendiri karena semua pilihan ada ditanganmu bukan ditangan kita, yang perlu kita pikirkan adalah apakah kita bisa mempertanggung jawabkan pilihan kita kepada orang lain, itu saja.

Citra,
Mmmmm, boleh motong sebentar gak ? ngomong-ngomong kalian tuh kok seneng banget sih ngomongin Tuhan, bukannya kita membahas tentang kehidupan manusia yang lebih terasa berguna dibandingkan kita membahas Tuhan yang secara nalar tidak bisa kita tolerir, bukannya lebih baik kita membahas sesuatu itu dari umum ke khusus, bukannya khusus ke umum.

Rendi,
Eeeeh ni anak bisa ngomong juga, aku pikir dari tadi lagi puasa ngomong, habis dari tadi kamu cuma bengong kaya gak punya roh gitu.

Faris dan Aku,
Hahahahahahaha…….. bener tuh

Faris,
Eh ya, aku lupa aku ada kuliah nih jam 3, kalo gak dipotong pembicaraan kita gak terkontrol nih, bisa sampai malam kita masih membicarakan hal ini. Gimana kalau kita lanjutkan diskusi ini besok lagi, lagi pula aku tidak akan membiarkan kalian diskusi tanpa aku. Ya udah yah, aku cabut duluan bye,

Oh iya aku juga lupa kalau aku ada janji sama Pak Sulis dosen algoritmaku untuk membicarakan kehadiranku yang bermasalah pada mata kuliah yang dia ajar, bisa-bisa aku tidak diperbolehkan ikut ujian kalau aku tidak melapor. Yang aku takutkan sebenarnya hanya omelan mama yang membuatku kesal sih, kalau bukan itu aku mungkin sudah tidak mempedulikan masalah kuliah ini dan membuang-buang waktuku untuk ketemu dengan Pak Sulis, lagi pula aku lebih baik duduk di sini sambil menghisap rokok dan minum teh botol kesukaanku ini.
Tapi sepertinya hari ini akan kutunda rencanaku bertemu dengan Pak Sulis untuk sekali lagi hang out di kantin. Kubuka tas selempang hitamku yang sudah berusia 2 tahun ini untuk mengambil dompet dan berharap masih ada sisa uang jajan untuk membeli setengah bungkus rokok lagi demi ketenanganku mengarungi lautan khayal di bawah atap asbes kantin ini, ternyata hari ini sama seperti kemarin, aku beruntung lagi ternyata uangku masih cukup untuk membeli rokok. Semuanya terasa lebih menyenangkan jika sedang menghisap rokok dan merasakan sensasi kenikmatan nikotin yang menggerogoti paru-paruku sedikit demi sedikit, aku heran pada kebanyakan orang yang menganggap wanita perokok adalah wanita tidak baik-baik, padahal aku memiliki dosen wanita yang kebetulan juga merokok, mereka tidak berpendapat seperti itu kepadanya apa karena status yang dia miliki sebagai dosen yang membuat dia terbebas dari sentimen-sentimen negatif masyarakat umum ? apa aku harus menjadi orang yang terpandang dulu baru aku dapat merengguk kebebasan yang aku idam-idamkan selama ini ? atau aku harus menjadi diriku yang seperti ini saja dengan tidak mengacuhkan pendapat orang lain dan bersikap masa bodo ? aku merasa seperti kehilangan jati diri, aku merasa tidak seperti diriku dan memakai topeng hitam yang menutupi mukaku yang belang dan penuh koreng kesalahan yang tidak pernah aku buat ini ?
Ah sudahlah, aku tak mau memikirkan itu terlalu jauh, semakin aku memikirkannya semakin jauh aku dari diriku yang sebenarnya, walau akupun tak tahu siapa Dini yang sebenar-benarnya Dini itu ? sepertinya benar kata Faris kemarin malam bahwa aku harus lebih sering berkaca untuk lebih mengenali siapa dan apa yang Aku inginkan dalam hidupku selama ini, iya juga ya ? jangan-jangan aku memang tidak tahu apa yang aku inginkan dalam hidup ini ?
Oouh shit, sudah jam 5 lagi, aku harus segera pulang kalau tidak ingin terkena cacian mama. Ya sudahlah, kalau dipikirkan lebih lanjut tidak akan memperbaiki kenyataan yang akan aku hadapi nanti di rumah, lagi pula buat apa aku buang-buang tenaga otakku untuk mengkhawatirkan sesuat yang belum tentu terjadi di masa depan ? walaupun itu memang selalu terjadi pada kenyataannya.

+++++

18:00

Aku,
Assalammualaikum, aku pulang

Beginilah caraku berbicara menyapa pintu depan rumahku untuk menandakan kehadiranku di rumah ini, bukan karena tata krama ataupun sopan santun yang harus kulakukan, karena semua itu hanya berbau basa basi saja, padahal aku juga sedang berbasa basi.

Mama,
Kamu dari mana sih !!! kebiasaan, apa sih yang sebenarnya kamu mau ? perempuan kok senang pulang malam. Perempuan macam apa kamu ini ?

Aku,
Ma, kenapa sih mama selalu ngomong gitu sama aku ? aku khan gak selalu pulang malam, lagipula sekarang kan baru jam 6, nggak terlalu malam kan ? lagipula kalau Rindu yang pulang malam gak pernah dimarahin kaya aku. Mama pasti ngomelnya ke Aku, Tuh lihat Adik kamu, makin besar makin seperti kamu, bisa gak kamu memberi contoh yang lebih baik.

Aku bosan dengan pola hubungan keluarga yang seperti ini dan terkesan kejam, aku teringat dengan sebuah cerita dalam film lama yang berjudul Ratapan Anak Tiri, aku sering mempertanyakan dalam diriku apakah aku anak tiri seperti kakakku. Diaz memang anak angkat, tapi dia beruntung memiliki tubuh dan jiwa seorang laki-laki yang tidak acuh pada sebuah masalah yang menghadapinya sehingga dia dengan mudah menghindarinya atau lari dari masalah itu dengan tidak memikirkan apa yang akan terjadi dengannya nanti. Bukannya aku sok gender atau apa, tapi aku memang perempuan, sekali lagi aku tekankan AKU PEREMPUAN yang memiliki perasaan sakit apabila disinggung perasaannya. Apa mereka tidak sadar bahwa kelakuanku selama ini adalah suatu bentuk protes terhadap apa yang sedang terjadi dalam masyarakat.
Banyak sekali hal-hal yang terjadi di masyarakat yang tidak aku suka, khususnya dalam keluarga, banyak sekali orang tua di negara ini yang masih menganut sistem Otoriter Hitler yang mendominasi seluruh kehidupan anaknya, dari yang menginginkan anaknya baik di mata masyarakat sampai si Anak harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya. Aku adalah salah satu objek kekejaman orang tua yang sangat tidak memberikan sebuah kebebasan berpendapat dan berkreasi. Aku terkadang berpikir apakah seorang anak yang dilahirkan ke dunia ini merupakan replika orang tuanya yang harus identik dengan si Penabur Benih atau seorang manusia yang memiliki kebebasan dan kepribadian yang unik. Manusia mana yang tidak menginginkan kebebasan dalam hidupnya ? orang gilapun menginginkan itu, apalagi orang normal. Sekian dulu berpikirnya ahh… aku sekarang sedang ingin melakukan hal-hal yang membuat aku lebih senang dan tenang dalam menjalani hidup, seperti kata Rendi, setiap orang memiliki batasan dimana kejenuhan akan berpikir melandanya, disitulah saatnya dia harus melakukan sebuah tindakan pencegahan dengan merelaksasikan pikirannya dengan cara meditasi atau bercerita ataupun berbicara dengan sebuah sosok yang dinamakan Tuhan [ini bagi orang yang mempercayainya]. Kalau tidak. Yaaa….tidur, hehe.

Sebuah hari baru yang menjelang sedang menanti perubahan, itulah kata-kata yang cocok untuk mengawali hari-hariku dengan semangat. Di… aku sedih nih,tadi citra sms, katanya aku tidak bisa ikut midtest kuliah algoritme,aku bingung…kenapa kemarin aku malah nongkrong di kantin bukannya lapor ketemu sama Pak Sulis ya ?. apadahal aku sudah merencanakan itu sejak dua hari yang lalu lho. Kalo aku gak bisa ikut mid berarti otomatis aku gak bisa ikut final juga khan ?… huh, mengeluh terus kerjaanku. Berapa tahun lagi aku harus mengalami kejadian-kejadian seperti ini sih ?. apa Tuhan sedang bermain-main denganku ? atau Tuhan sedang mencoba kesabaranku ?. di, kok kamu diam aja sih ? kasih solusi dong…………….. Aku sudah muak dengan apa yang terjadi dengan diriku selama ini, aku harus bertindak, tapi apa yang harus kulakukanpun aku tidak tahu. Semua masalah ini terkesan menghalangiku berjalan ke depan dan memaksa aku untuk melihat ke belakang untuk menganalisa apa penyebab semua ini. Aku terikat oleh tali kekang yang menutupi seluruh badan sehingga aku sudah tak bisa bergerak kemana-mana lagi, aku terjerembab oleh satu kata TAKDIR yang kejam.

Aku,
Ma, aku berangkat ya…Assalammualaikum.

Suasana sunyi menjawab salamku yang penuh paksaan ini. Mungkin mama sudah tahu bahwa salam yang aku sampaikan ini merupakan basa-basi belaka, atau mama masih maarah karena sikap dan perkataanku semalam. Terkadang aku memang merasa bersalah karena telah berkata kasar kepadanya tetapi kata-kata itu memang harus disampaikan padanya dengan harapan dia bisa mengerti bahwa aku punya cara sendiri dalam mengatasi jalan hidupku dan aku bukan dia yang selalu bergerak di jalur yang sama untuk mengawali hari yang baru, aku bukan orang yang statis, aku adalah seseorang yang memiliki jiwa perubahan dan senang menghadapi sesuatu yang baru. Aku pikir semua orang berpikiran sama seperti diriku.

“Ribuan kilo jarak yang kau tempuh” sebuah nyanyian sumbang terhempas dari mulut kering seorang anak kecil dengan botol berisi pasir mengiringi tempo nyanyiannya, lirik lagu itu terasa amat dalam jika kita cerna, sebuah [engorbanan seorang ibu untuk membesarkan anaknya, tapi jika aku berpikir, apakah si ibu benar-benar melakukan semua itu hanya demi kebahagiaan anaknya atau untuk kepuasan pribadinya saja ? apakah seorang ibu akan menjawab dengan jujur apabila kita sebagai anak mempertanyakannya ? aku rasa tidak. Mereka akan menjawab, semua yang ibu lakukan hanyalah untukmu tidak lain. Versi lain akan berkata bukan hanya untuk kebahagiaan anak saja, tetapi untuk kebahagiaan keluarga kita semua. Itu lebih parah lagi, bukannya semua orang berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan dirinya pribadi saja, kita bekerja, belajar dan bermain, semua itu hanya untuk memuaskan hidup kita yang sendiri ini bukan ?. Hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Citra,
Pagi Dini, tumben berangkat pagi, kenapa kamu bisa tiba-tiba berangkat pagi ? kamu salah minum obat ya ?.

Aku,
Hehe, sedikit memulai perubahan kecil dalam hidup, itu saja. Lagi pula aku mau ketemu sama Pak Sulis untuk mengusrus ketertinggalanku dalam kuliah, mungkin saja Pak Sulis berbaik hati untuk memberikan dispensasi agar aku bisa mengikuti midtest nanti.

Aku,
Selamat pagi pak, bisa minta waktunya sebentar buat bicara?

Pak Sulis,
Selamat pagi, iya bisa, silahkan duduk. Saya mau ambil teh saya dulu di dapur.

Tumben sekali orang ini bisa seramah itu, apa mungkin memang dia orang yang ramah? Bisa saja sih, aku kan tidak begitu dekat dengan dosen, aku hanya menilai dari tampilan luar mereka dan cara mengajar mereka yang tidak acuh pada mahasiswanya, mau ngerti atau enggak itu masalah mahasiswanya sendiri. MENYEBALKAN. Tapi ternyata aku salah dalam menilai orang ini.

Penilaian memang terkadang bisa menyesatkan tapi aku yakin penilaianku akan dia tidak salah. paling tidak begitulah pikirku saat ini.

Pak Sulis,
ada yang bisa dibantu nih?
katanya sambil tersenyum acuh tak acuh, disodorkannya secangkir teh untukku. dari gerakan tubuhnya aku tahu dia menawarkan aku untuk meminum teh itu tanpa bicara

Aku,
terimakasih,Pak.
Begini Pak, saya datang hari ini mau membicarakan tentang ujian yang harus saya ikuti minggu ini

Pak Sulis,
dan sayangnya tidak bisa kamu ikuti.

katanya tenang.
Belum-belum sudah menghancurkan harapanku. Kutarik cangkir teh berharp minuman manis itu bisa membuatku agak tenang.

Aku,
itu dia maksudnya Pak. Saya berharap Pak Sulis bisa memberikan kelonggaran, tugas-tugas atau apa saja. Saya mau ikut ujian, Pak

Pak Sulis,
kenapa baru mau sekarang?

Bibirku kelu. Apa kata yang pantas diucapkan pada saat seperti ini. Aku cuma mengendikkan bahu pelan sambil menggeleng

Pak Sulis,
Kamu aja nggak tahu koq saya disuruh ngasih kelonggaran? Perbuatan saya jadi tanpa alasan dong.

Pak Sulis menyesap tehnya. Matanya tidak memandang ke arahku, melainkan pada jendela di pojok kanannya.

Aku tertunduk.

Aku,
Kata-katanya ada benarnya sih

Pak Sulis,
kalau kamu setidaknya tahu alasan kamu, mungkin saya bisa bantu. baru mungkin loh. Saya nggak pernah janji.

katanya tenang. Aku menunduk.

tiba-tiba. memecah keheningan terdengar dering dari telepon genggamku. sedikit kesal karena muncul di saat yang tidak tepat, sekaligus lega karena menyelamatkan aku dari pembicaraan yang seolah tak berujung ini kuangkat telepon itu setelah permisi pada Pak Sulis.
“Halo”

Related posts