BOGOR – Semangat gotong royong anak muda Bogor kembali terlihat melalui kegiatan bertajuk Hujan Harapan yang digelar di Dieu Geura Art & Community Space, Jumat (27/12/2025). Acara yang memadukan musik, seni, diskusi publik, hingga kegiatan amal ini berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp18.408.100 untuk membantu masyarakat terdampak banjir di Sumatra dan Aceh.
Hujan Harapan lahir dari kolaborasi berbagai komunitas kreatif, pelaku usaha, media independen, forum ekonomi kreatif, serta musisi Kota Bogor. Sejumlah pihak yang terlibat di antaranya Minortive, Dieu Geura Art & Community Space, Eternal Store, Hujan Rekords, REKA Bogor, Rain City Hardcore Crew, DN Music Studio, Rocky Music & Studio, Dapur Tetangga Baik, Aku Punya Musik, Bogor Pisan, Kisruh.com, serta musisi seperti Cause, Eyeliner, Fresh Lemon, Killer Queen, Kinkip, Rrag, dan Vikri & My Magic Friend.
Lebih dari 150 orang hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan yang mengusung semangat solidaritas melalui pendekatan budaya populer tersebut. Beragam aktivitas digelar, mulai dari diskusi publik, pertunjukan musik, lelang karya seni, hingga garage sale. Seluruh hasil penjualan dan donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu korban banjir di Sumatra dan Aceh.
Bagi para penggagasnya, solidaritas tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan formal. Ruang-ruang kreatif dinilai mampu menjadi medium yang dekat dengan generasi muda untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan mendorong aksi nyata.
Perwakilan penyelenggara Hujan Harapan, Edo Wallad, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang penggalangan dana, tetapi juga membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Kami melihat Hujan Harapan bukan sekadar kegiatan penggalangan dana, tetapi sebuah upaya untuk membangun harapan baru tentang bagaimana kita menyikapi bencana bahkan sebelum bencana itu terjadi. Ini adalah soal membangun kesadaran melalui cara-cara komunikasi yang kreatif yang digagas bersama oleh kolektif-kolektif kreatif di Bogor,” ujarnya.
Menurut Edo, kolaborasi lintas komunitas yang terbangun dalam kegiatan ini menjadi bukti kuatnya solidaritas masyarakat Bogor. Ia berharap semangat serupa dapat terus tumbuh untuk merespons berbagai persoalan sosial lainnya.
Selain aksi penggalangan dana, Hujan Harapan juga menghadirkan diskusi mengenai pentingnya komunikasi publik dan pendekatan budaya dalam meningkatkan kesadaran kebencanaan. Diskusi tersebut menghadirkan Dr. Dwi Retno Hapsari, SP, M.Si, dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) FEMA IPB University.
Dalam pemaparannya, Dwi Retno Hapsari menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi sehingga kesiapsiagaan perlu menjadi bagian dari budaya masyarakat.
“Bencana terjadi berulang, dan yang paling sering justru yang dekat dengan keseharian kita, seperti banjir, cuaca ekstrem, karhutla, dan lainnya. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan reaksi sesaat. Gen Z punya kekuatan besar untuk mengubah informasi menjadi aksi, dan mengubah konten menjadi kebiasaan kolektif yang menyelamatkan,” katanya.
Dukungan juga datang dari para musisi yang terlibat dalam acara tersebut. Dely, drummer band CAUSE, menyebut keikutsertaan mereka merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama.
“Bagi kami, CAUSE bukan hanya soal bermusik, tapi juga soal kepedulian. Terlibat dalam acara Hujan Harapan adalah bentuk keinginan kami sebagai bagian dari Bogor untuk ikut ambil peran, sekecil apa pun, dalam membantu saudara-saudara kita yang terdampak banjir di Sumatra dan Aceh,” ungkapnya.
Seluruh donasi yang terkumpul melalui Hujan Harapan akan disalurkan melalui SalamAid untuk mendukung kebutuhan darurat masyarakat terdampak banjir di Sumatra dan Aceh.
Melalui kolaborasi seni, musik, dan aksi sosial, Hujan Harapan menunjukkan bahwa ruang kreatif tidak hanya menjadi tempat berekspresi, tetapi juga dapat menjadi wadah untuk memperkuat solidaritas dan mendorong partisipasi publik dalam isu-isu kemanusiaan.



