Perubahan Muse (USA) menjadi People from Venus

Siapa yang tidak kenal Band bernama Muse, tapi sebelum salah paham, Band bernama Muse yang akan diulas berikut ini bukanlah Band yang berasal dari UK, melainkan Band Amerika yang terbentuk di era Tahun 90an. Band yang terbentuk pada tahun 1990an ini berawal dari Miami Beach, Florida, US dan berada pada label Atlantic Records.

 

Muse (USA)

Muse (USA) hanya menelurkan satu album berjudul Arcana pada Tahun 1997 dirilis oleh Atlantic/Wea, bahkan sebelum Album Showbiz milik Muse (UK) lahir pada Tahun 1999. Band yang formasi awalnya Paul Isaac (Gitar dan Vokal), Matthew Sabatella (Bass), Brett Cosmo Thorngren (Drum dan Backing Vokal), Ari Eisenstein (Bass, Piano dan Hammond) pernah satu panggung dengan band Porno for Pyros, Collective Soul dan The Cure, Muse memutuskan untuk istirahat saat drummer mereka berhenti dan menjadi DJ, pada saat itu, mereka didekati oleh pihak dari UK untuk dibeli namanya (yang saat ini digunakan oleh band Muse dari UK Inggris). Karakter vokal Paul mirip sekali dengan Billy Corgan dari Smashing Pumpkins di masa awal, entah sebuah kebetulan atau tidak. Buat kalian yang mau bernostalgia dengan musik-musik ala Alternative Nation dengan gelora distorsi gitar yang crunchy, mungkin band ini bisa jadi salah satu referensi. Nah, buat para fans Muse (UK), jangan berharap band Muse (USA) ini serupa karena memang band yang berbeda.

Setelah berjuang sepanjang tahun 2000-an untuk menyelesaikan tindak lanjut Arcana dan mengacak-acak nama band yang berbeda, mereka menemukan inspirasi kreatif dengan nama People from Venus. Dengan nama yang baru, mereka mulai merekam album yang telah lama ditunggu sejak album Arcana dan akhirnya dirilis pada 2 Maret 2010 dengan tur.

Perusahaan Pemilik TikTok Mengakuisisi Moonton

Kesepakatan yang terjadi antara Perusahaan Bytedance pemilik Tiktok saat mengakuisisi Monton ini bernilai sekitar US $ 4 miliar, dua sumber mengatakan kepada Reuters.

Akuisisi studio video game datang karena ByteDance, pemilik TikTok dan platform video pendek China serupa Douyin, telah membuat terobosan besar ke dalam bisnis video game, menempatkannya dalam persaingan langsung dengan Tencent China.

“Melalui kolaborasi lintas tim dan mengambil pelajaran serta wawasan dari pertumbuhannya yang cepat, Moonton memberikan dukungan strategis yang diperlukan untuk mempercepat penawaran game global Nuverse,” kata ByteDance dalam sebuah pernyataan, menolak berkomentar tentang ukuran akuisisi.

Dalam memo internal, Yuan Jing, CEO Moonton, mengatakan perusahaan akan beroperasi secara independen dari ByteDance setelah akuisisi, sebuah sumber mengatakan kepada Reuters dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang untuk berbicara dengan pers.

Teknologi Moonton yang didirikan oleh mantan karyawan Tencent ini paling terkenal di Asia Tenggara dengan game multiplayer online battle arena (MOBA) Mobile Legends.

Tencent, perusahaan video game dan media sosial terbesar di China, mengajukan penawaran untuk Moonton tetapi tawaran itu cocok dengan ByteDance pekan lalu, dua sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Reuters.

Saat dihubungi Reuters, Tencent mengatakan tidak mengomentari spekulasi pasar.

Akuisisi ini berarti ByteDance sekarang memiliki game MOBA yang dapat bersaing dengan Honor of Kings dan League of Legends dari Tencent, keduanya merupakan uang tunai untuk Tencent.

Sejak 2017, Tencent dan Riot Games telah mengajukan beberapa tuntutan hukum terhadap Moonton atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran hak cipta.

(Dilaporkan oleh Pei Li, Yingzhi Yang dan Fanny Potkin; Penyuntingan oleh Tom Hogue, Ana Nicolaci da Costa dan Louise Heavens)

Sumber:
Reuters
https://www.channelnewsasia.com/news/business/bytedance-acquires-gaming-studio-moonton-at-around-us-4-billion-valuation–sources-14463842

Diterjemahkan menggunakan Google Translate

Plépah, Wadah Makanan Ramah Lingkungan yang Berasal dari Pelepah Pinang

Wadah makanan yang biasa kita gunakan saat membeli makanan umumnya berbahan plastik yang—sudah terlalu banyak dan—belum bisa terdaur ulang dengan efektif di Indonesia khususnya. Ketika kita berbelanja makanan jadi atau beku, seringkali kita terlena untuk menggunakannya hanya sekali. Memang ada beberapa jenis kemasan plastik yang hanya sekali pakai, namun ini menjadi pekerjaan rumah kita untuk mengelolanya.

Tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik sebanyak 3,22 juta ton dengan sekitar 0,48-1,29 juta ton di antaranya mencemari lautan. Data tersebut menempatkan Indonesia menduduki peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dunia setelah Tiongkok. Publik diharapkan mau mendorong perusahaan untuk transparan dengan membuka jejak plastik mereka dan melakukan perubahan atas masifnya produksi kemasan plastik sekali pakai.” – (sumber: https://akurat.co/news/id-874593-read-negeri-ini-diserang-sampah-plastik-bermerek-nbsp).

Beberapa pelaku usaha dan komunitas sudah berusaha menciptakan inovasi-inovasi terkait wadah—khususnya makanan, seperti wadah biofoam dan edible packaging—,namun yang saya lihat adalah keterbatasan jumlah produksi yang akhirnya menjadi salah satu penyebab harga wadah tersebut menjadi lebih mahal dibanding wadah plastik yang umum digunakan.

Di Indonesia, saya tertarik dengan produk Plépah yang berasal dari inisiatif beberapa orang yang memiliki keahlian desain produk dan kepedulian terhadap produk ramah lingkungan.

Plépah menggunakan bahan dasar pelepah pinang yang tidak terpakai di daerah Jambi dan Palembang, pada awalnya pelepah pinang yang rata-rata jatuh satu kali tiap bulannya akan dibuang atau dibakar, namun sekarang pelepah tersebut menjadi bahan utama untuk membuat wadah makanan yang bernilai komersil, ini merupakan solusi yang menguntungkan menurut saya.

Oh ya, produk Plépah ini tahan lama, tahan air dan dapat menahan panas hingga 150°C. Ini aman untuk oven hingga 200°C selama 45 menit dan dapat dimasukkan ke dalam microwave hingga 4 menit! Silahkan dicoba.

Jika kalian ingin mengetahui produk Plépah lebih lanjut, silakan kunjungi:

Website: www.plepah.com

Instagram: @plepah_id

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/plepah

The Wailing

Berbekal keinginan nonton horor korea dan pencarian rating tinggi ketemulah film ini.
Sebuah film yang memberikan banyak clue yang sulit sekali untuk diarahkan pada suatu jawaban dan membuat kita – seperti juga mereka tokoh dalam film ini – menerka2 sepanjang waktu.

Nggak ada yang lebih horor dari ketidak tahuan pada apa yang membuat kita merasa takut. Dalam film ini ada semacam wabah yang membuat para penduduk desa membantai keluarganya sendiri. Banyak dugaan yang dibuat oleh para polisi dan warga, keracunan jamur, halusinasi, kutukan atau juga iblis!

Sepanjang film bertanya2 dan saya diberikan akhir yang bisa dibilang seakan dilempar ranting2 kayu oleh si film sembari dia bilang “ngarep apa? Hah? Hah? Hah? “. Penjelasan dalam beberapa menit terakhir membuat banyak interpretasi yang bikin gremet gremet.

Sumber: https://www.instagram.com/p/B9LfkoDheD7/

Album Hanging Around (1996), Me Me Me

Bagi pencinta musik Britpop, sudah pasti tidak asing mendengar nama Alex James (Blur), Justin Welch (Elastica) dan Stephen Duffy (Duran Duran). Mereka tergabung dalam sebuah supergroup band yang bernama Me Me Me.

Tidak banyak artikel media yang menyoroti kegiatan band ini. Keberadaan band ini memang terkesan cukup singkat, underground dan tidak produktif, mungkin karena anggotanya menganggap band ini sebagai side project.

Berbekal dengan 1 CD berisikan 3 lagu (Hanging Around, Hollywood Wives dan Tabitha’s Island), mereka berhasil membuat saya kembali ke era kejayaan musik Britpop, dimana logat Inggris deangan efek khas gitar dan lirik yang sing along sangat kental di telinga.

Lagu Hanging Around sangat cocok untuk menemani kita hang out di sore hari bersama teman-teman tanpa tujuan, just hanging around. Suara instrumen terompet dan ketukan drum satu-satu menjadikan lagu ini lebih bersemangat dan ceria.

Hollywood Wives mengingatkan kita dengan album awal Blur. Disini terlihat sekali peranan Alex dalam mengaransemen lagu.

Cukup 2 lagu untuk membuat saya menyatakan band ini sangat layak didengar.

Apparatjik, menjelajahi personil berkepala kubus

Dentuman sound elektronik tahun 90an yang banyak terdengar di album perdana band supergroup yang berisikan bassist Guy Berryman dari Coldplay, guitarist/keyboardist Magne Furuholmen dari A-ha dan singer/guitarist Jonas Bjerre dari Mew ini membuat musiknya mengembalikan kita ke era tahun itu.

Band yang terbentuk pada tahun 2008 ini memang membuat saya banyak berekspektasi pada kemampuan jelajah musik para personilnya. Guy yang merupakan motor lagu-lagu pop Coldplay, Furuholmen yang berkontribusi besar di lagu “Take On Me” A-ha dengan unsur New Wave-nya, dan Jonas yang memiliki teknik bernyanyi dengan suara tinggi dan melankolis.

Mereka merilis album perdananya pada Tahun 2010 yang berjudul “We Are Here”, sebuah arogansi untuk menyatakan keberadaan mereka agar diakui. Album yang berisikan 11 lagu ditambah 3 bonus lagu ini memiliki daya tarik yang sangat luar biasa buat saya. Lagu “Deadbeat” contohnya, unsur 8-Bit yang sangat menonjol ditambah dengan suara khas Jonas membuat perasaan saya campur aduk saat mendengarkannya. Lagu “Supersonic Sound” dimulai dengan suara Guy di bagian verse yang mengingatkan kita akan Coldplay, sekali lagi mereka tidak melupakan sisipan-sisipan synthesizer yang menjadi ciri khas musik mereka. Bagian chorus yang diisi oleh suara Jonas menjadikan lagu ini lebih melankolis dan membuat dada sakit tersayat.

Band yang menutupi kepalanya dengan kubus bersiluet wajah masing-masing personil memang tidak hanya menjual kemampuan bermusiknya saja. Mereka meluncurkan sebuah proyek lingkungan yang berjudul agreeneryouniverse pada tanggal 11 Februari 2011. Proyek ini mengundang masyarakat diseluruh dunia untuk menanam pohon, mengambil fotonya dan mengunggahnya kedalam website mereka. 1000 orang pertama yang melakukan itu akan dihadiahkan lagu baru dari Apparatjik.