Foto dari: bogor-kita.com

The Dusty Rusty Hadirkan Retro-Pop Modern lewat Mini Album Platipus

The Dusty Rusty menandai fase baru perjalanan bermusiknya melalui mini album perdana bertajuk Platipus. Dirilis pada 25 Juli 2026, karya berisi lima lagu tersebut kini telah tersedia di berbagai layanan

Last Updated on August 24, 2026 by admin · 1 Views

The Dusty Rusty menandai fase baru perjalanan bermusiknya melalui mini album perdana bertajuk Platipus. Dirilis pada 25 Juli 2026, karya berisi lima lagu tersebut kini telah tersedia di berbagai layanan streaming digital.

Bagi kuartet asal Bogor ini, Platipus menjadi pijakan penting setelah sebelumnya memperkenalkan musik mereka melalui sejumlah single. The Dusty Rusty diperkuat Denrobay pada vokal dan gitar, Kuray pada gitar, Cupla pada bass, serta Russel pada drum.

Lewat mini album tersebut, The Dusty Rusty mempertahankan karakter retro-pop yang menjadi identitas mereka sekaligus membawanya ke dalam konteks musikal yang lebih modern. Pengaruh musik pop dekade 1950-an dan 1960-an berpadu dengan elemen rock ‘n’ roll dan rockabilly.

Konsep musikal itu tidak berdiri sendiri. Lirik-lirik dalam Platipus berangkat dari pengalaman dan dinamika kehidupan anak muda, khususnya mengenai relasi dan perjalanan emosional seorang laki-laki muda.

“Kami berusaha merangkum berbagai fase percintaan mulai dari ekspektasi, kegelisahan, hingga proses pendewasaan dari sudut pandang seorang laki-laki muda tanpa harus berjarak dengan identitas musik yang membentuk kami,” ujar Cupla.

Warna musikal The Dusty Rusty turut dipengaruhi karya-karya awal The Beatles, termasuk album Please Please Me dan A Hard Day’s Night. Namun, referensi tersebut tidak diterjemahkan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali musik masa lalu secara mentah.

Sebaliknya, The Dusty Rusty mengolah berbagai pengaruh tersebut melalui karakter dan proses kreatif mereka sendiri. Sebagian besar materi lagu berawal dari sesi jamming antarpersonel. Setelah menemukan bentuk yang dianggap matang, proses penulisan kemudian dilanjutkan hingga tahap produksi dan rekaman.

“Biasanya penulisan musik kami lakukan melalui tahap jamming. Setelah dirasa cukup utuh, baru kami rampungkan saat proses rekaman di studio,” kata Cupla.

Proses pengerjaan Platipus sendiri berlangsung cukup panjang. Sejumlah materi telah mulai ditulis sejak 2025 dan kemudian diselesaikan sepanjang kuartal pertama 2026. Dalam produksinya, The Dusty Rusty menggandeng Shena Ariyandi sebagai produser, sementara proses rekaman berlangsung di 13 Nadi Musik dengan bantuan Boy Mulyadi.

Kesibukan masing-masing personel menjadi salah satu tantangan selama proses produksi. Selain harus menyesuaikan waktu, kebiasaan melakukan improvisasi juga membuat sejumlah materi kembali mengalami perubahan meskipun sebelumnya telah dianggap final pada tahap workshop.

“Proses rekaman Platipus cukup menguras tenaga, karena tiap personel punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Terlebih, kami cukup sering melakukan improvisasi dan mengubah materi yang sebenarnya sudah final di tahap workshop,” ujar Robay.

Meski membawa warna retro, The Dusty Rusty tidak secara khusus merancang musik mereka untuk mengikuti tren atau mengejar kelompok pendengar tertentu. Mereka memilih mempertahankan pendekatan yang sederhana dan mudah dicerna, sembari tetap menjaga karakter yang telah mereka bangun.

Menariknya, kelima lagu dalam Platipus tidak hanya berdiri sebagai karya yang terpisah. Jika didengarkan secara berurutan, lagu-lagu tersebut membentuk satu alur cerita mengenai perjalanan emosional seorang laki-laki muda.

Cerita tersebut bergerak dari pengalaman cinta yang tidak berbalas, kenangan terhadap sebuah tempat, persoalan dalam hubungan yang tidak sehat, hingga proses memasuki fase coming of age.

Konsep tersebut kemudian memiliki kaitan dengan nama Platipus. Hewan mamalia semiakuatik ini dikenal memiliki karakteristik yang tidak biasa karena memadukan sejumlah keunikan dalam satu tubuh. Bagi The Dusty Rusty, hal tersebut menjadi metafora untuk menyatukan berbagai pengalaman dan warna musikal dalam satu karya.

“Kami tidak berusaha mengejar tren. Yang kami tawarkan adalah identitas The Dusty Rusty yang otentik dan lahir dari kecintaan kami terhadap musik lawas yang terus digali dengan cara kami,” ujar Kuray.

Bagi The Dusty Rusty, Platipus sekaligus menjadi pernyataan bahwa musik retro-pop tidak harus terdengar usang. Dengan pengolahan yang lebih modern dan proses kreatif yang berangkat dari pengalaman personal, mereka berusaha menghadirkan musik lawas dalam bentuk yang tetap relevan dengan pendengar masa kini.

Russel menyebut Platipus sebagai bagian dari eksplorasi The Dusty Rusty untuk menemukan bentuk musikal mereka sebagai sebuah kelompok.

Platipus merupakan bentuk eksplorasi yang berani dari kami sebagai satu kesatuan di The Dusty Rusty, keberanian menjadi diri sendiri, serta simbol bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan ekspektasi orang lain,” tuturnya.

Mini album tersebut juga bukan menjadi tujuan akhir bagi band yang terbentuk di Gunung Putri itu. Platipus justru diposisikan sebagai awal dari perjalanan berikutnya bersama pendengar mereka.

Setelah perilisan mini album, The Dusty Rusty menyiapkan showcase peluncuran Platipus yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Mereka juga tengah mempersiapkan tur ke sejumlah kota di Pulau Jawa untuk membawa materi tersebut ke panggung yang lebih luas.

Melalui Platipus, The Dusty Rusty memperlihatkan bahwa eksplorasi terhadap musik lawas masih memiliki ruang dalam perkembangan musik independen saat ini. Retro-pop mereka tidak ditempatkan semata sebagai nostalgia, tetapi sebagai medium untuk mengemas cerita tentang cinta, kegelisahan, relasi, dan proses pendewasaan dengan cara yang dekat dengan generasi sekarang.